Showing posts with label Mall Pluit Junction. Show all posts
Showing posts with label Mall Pluit Junction. Show all posts

Friday, August 14, 2009

de' Excelso

Please forgive me karena tidak update di bulan July, bulan July itu bulan yang sangat sibuk, ditambah komputer rumah rusak dan belum ada dana untuk beli komputer baru.. hiks, hiks... duitnya buat married.. T__T

Tapi tenang, di bulan Agustus harusnya uda bisa mulai aktif lagi, haha...


Hari itu habis fitness malem-malem, sorenya sih uda makan, jadi gak laper-laper banget, cuman pengen sedikit ngemil aja, jadi gak kepengen makan-makanan yang berat.. hehe.. takutnya nanti fitness jadi gak ada gunanya kalo malem-malem ngemil pizza...

Mataku langsung melirik sebuah cafe yang didepannya ada tulisan Disc. 20% dengan Flazz BCA... Setelah isi ulang Flazz, aku lalu melangkah masuk dengan mantap ke de' Excelso..!




1. Floating Island Milk (Rp. 37.500,-)
Pada menu



Aslinya




Pelayan memberikan pilihan, apakah saya ingin memakai kopi atau tidak, berhubung saat itu sudah malam, jadi takutnya gak bisa tidur, aku memilih tanpa kopi... Tapiii... sayangnya tanpa kopi, minuman ini ternyata rasanya tidak berbeda dengan Jus Alpukat limaribuan di pinggir jalan...

Rasa awalnya tidak manis, malah cenderung hambar untuk sebuah jus alpukat.. setelah gula yang disediakan dituang semuanya, barulah terasa agak manis.. eskrim yang katanya premium itu hanya memberikan efek creamy pada jus alpukat yang sebenarnya sudah cukup creamy, peribahasanya kira-kira seperti menuangkan garam ke laut...


2. Bread Bowl Soup (Rp. 30.000,-)
Pada menu


Aslinya


Ketika soup terisi penuh.


Ketika soup sudah habis.

Awalnya dari tutupnya kirain ini roti manis biasa... ternyata dari cupnya, pinggirannya seperti roti prancis, tapi jangan kira bisa makan semua bagian rotinya, semakin kebawah, roti ini semakin tidak manusiawi... kalau aku tidak berhenti mencoba mengoyak roti bagian bawah, mungkin hari ini gigiku tidak selengkap ini...

Pemilihan roti ini juga sepertinya hanya untuk keindahan makanan (yang sebenarnya begitu datang gak indah-indah banget)... karena rotinya bocorrr... piring jadi becek, tangan jadi kotor, sangat tidak elegan... Solusi yang sepertinya diterapkan juga tidak baik, agar bocor tidak terlalu parah, soupnya diberikan hanya sedikit sekali...

Meskipun begitu, rasa soupnya enak, tidak seperti soup-soup ditempat lain yang cenderung membuat haus... namun kelebihannya ini justru jadi kekurangannya... karena nikmatnya soup itu hanya bisa kita rasakan sebentar, soalnya sedikit sekali soupnya T__T




Kesimpulan akhirnya bisa kubilang bahwa kekuatan de' Excelso hanya suasana restonya aja, meskipun begitu pelayan yang cenderung cuek dan tidak terlalu sopan dalam melayani malah mengurangi nilai suasananya...


Total harga = Rp. 67.500,-
Total - Disc. Flazz 20% + Tax 10% (after disc) = Rp. 59.400,-



Nilai :
  • Kebersihan : 8/10 - cafe memang menjual tempatnya, kalo kotor habislah dia, hehe...
  • Pelayanan : 5/10 - untuk cafe, bisa dibilang gak sopan dan cenderung cuek...
  • Rasa makanan : 6/10 - alasannya bisa dibaca ulang di atas, hehe..
  • Harga : 6/10 - harganya mahal untuk rasa yang seperti itu..
  • Suasana restoran : 7/10 - Pelayannya mengurangi nilai disini..

Saturday, March 21, 2009

The Red Sapphire



Restoran yang buka hanya pada jam makan siang dan jam makan malam ini memberikan kesan yang exclusive sekali.. terus terang saya sempat tidak berani mencoba makan disitu, tapi atas dorongan seorang sobat, saya memberanikan diri untuk mencoba makan siang di The Red Sapphire (dengan was-was)...

Begitu masuk, langsung bisa kita lihat hiasan-hiasan yang terlihat mahal, seperti gading gajah, tulisan-tulisan china kuno, lukisan-lukisan, guci-guci antik, serta beberapa om-om senang yang duduk-duduk bercanda... Terus terang hal itu membuat hati makin dag-dig-dug gak karuan memikirkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk icip-icip kali ini, jangan-jangan ini yang paling mahal dari semua post yang lain...

Contoh hiasannya :


Beberapa lama setelah berdiri mengagumi hiasan restoran, saya dan yayang disambut hangat oleh seorang pelayan dari kejauhan (seharusnya dari belum masuk juga uda disapa, tapi ga ada orangnya), kami diantar sampai meja, dan kami diberikan selembar list menu dim sum yang sepertinya familiar buat kami...

Menu dimsum :


Saya (S) : "Mbak, kok mirip kayak yang di Cuisine-Cuisine*, yach ?"
Dia (D) :"Iya Pak, kami dan Cuisine-cuisine sama kok, satu dapur"
S : "Oh yach ?? kalo satu dapur terus kenapa musti dua nama ?"
D : "Yang ini hanya untuk Lunch dan Dining saja pak, lalu kami juga specialized di Seafood"
S : "terus apa harganya sama ?"
D : "Iya pak, tapi disini tax lebih tinggi..."
S : "........."
D : "..."
S : "..............."
D : "untuk ruang VIPnya"
S : "oooo"
*(Cuisine-Cuisine adalah nama restoran juga di Pluit Junction, terletak tepat di atas Red Sapphire)

Sambil menunggu pesanan kami diberikan :


Jangan kirain gratis yach... Pickle : Rp. 8.000,-

Pesan atau tidak pesan, harga kacang rasa MSG dengan sedikit teri ini Rp. 8.000,-... kalau kata temen-temen, kalau mau gratis ada trick nya, protes aja pas datang tagihan dengan intinya bilang "kan tidak pesan"... hehe, tapi saya gak ah...

Berhubung seafood adalah spesialisasi dia, kami ditawarkan makan siang seafood... kami diantar sampai ke aquariumnya, disini ada beberapa makhluk laut yang bisa kita lihat sedang berenang dan berusaha kabur... ada semacam kerang, udang, semacam penyu, dan berbagai macam ikan...

Seafood yang katanya specialized :



Dari Aquarium itu kami memesan :

4 ekor Kerang Ketok (@ Rp. 10.000,-) - Dimasak saos XO
[Pada gambar aquarium ada di baris paling bawah urutan kedua dari kiri]

2 Nasi Putih (@ Rp. 5.000,-)

yang datang :



Seperti yang pernah saya katakan di post pertama saya, saya bukan orang yang bisa makan pedas cabai, sebelum memesan menu ini, saya tanyakan apakah pedas atau tidak, dia bilang pedas dari XO-nya saja, saya pikir saya bisa makan... tapi dari yang datang saja sudah terlihat jelas cabe kering yang mereka gunakan...

Pada restoran biasa, saya kadang mengancam, saya katakan "Maksud kamu 'tidak pedas' atau 'pedas sedikit saja' ? karena saya alergi pada cabai, kalau saya kelojotan situ yang tanggung jawab" tapi saya lengah disini... menyebalkan... (jadi curhat nih, hehe)

Back to the review, review rasa dari yayang dikatakan, rasa XOnya tidak berasa sama sekali, dia memakai terasi dan udang kecil-kecil sebagai bumbunya, ada soun sebagai isinya (supaya ga terlihat sedikit kali ?), terlalu banyak minyak, tapi overall enak... biasanya saya protes, tapi karena yayang bilang enak ya uda deh, ga jadi protes... :P hehe...


Pesan 4 pcs dapat 4 piring, hohoho...


Sup Perut Ikan dan Kepiting (Rp. 38.000,-)
Pada menu


Aslinya



Sup kental ini berisi perut ikan dan kepiting, tidak berasa manis seperti sup kepiting pada umumnya, tapi lebih berasa perut ikannya... cukup banyak perut ikan yang dipakai, tapi tidak dengan kepitingnya...


Tumis Sapi Dengan Lada Hitam & Madu (Rp. 68.000,-)
Pada menu

Aslinya



Sapi yang dihidangkan benar-benar lembut, rasa dari menu yang ini ladanya benar-benar kuat, brokoli yang digunakan pun segar dan enak, tapi kacang mede menurut kami malah gak cocok... kalau mau coba masakan sapi, coba sapi lada hitamnya aja... hehe, kalau benar dia satu dapur dengan Cuisine-cuisine, maka Sapi lada hitamnya highly recommended...


untuk minumnya :
2 Chinese Tea (@ Rp. 5.000,-) - Chrisantium Tea - Free Refill



Chinese Tea di The Red Sapphire ini dihitung per orang, bukan per teko, oleh karena itu jika kamu datang berdua, kamu boleh pesan Chrisantium dan Grean Tea sekaligus, atau kombinasi yang lain, harganya tetap 5.000 per orang (free refill dengan air panas) dengan begitu kamu bisa mencoba teh-teh lainnya juga... Meskipun begitu, teh mereka rasanya hampir sama satu sama lain karena rasanya hambar...


Total + Tax 10% = Rp. 191.400,-






Nilai
  • Kebersihan : 8/10 - Sendok emasnya pada terkelupas, membuatku ragu menggunakannya.
  • Pelayanan : 6/10 - Makan ditungguin benar-benar tidak nyaman, nengok sedikit "ada yang bisa saya bantu pak ?" selain itu saya masih sebel sama kerang yang pedas itu...
  • Rasa makanan : 6/10 - Tapi sapinya patut dicoba
  • Harga : 6/10 - Memang mahal
  • Suasana Restoran : 8/10 - Oke lah

Sunday, March 1, 2009

MAME



Mame adalah restoran yang cukup besar di Pluit Junction, namun tidak seperti restoran besar lainnya di Pluit Junction, ataupun seperti restoran Jepang lainnya di Jakarta, Mame ini terlihat sepi...

Begitu menjejakkan kaki di Mame Restaurant, kami dihampiri seorang satpam, awalnya kami pikir ada semacam security check sebelum makan di Mame, tapi ternyata satpam itu menyapa kami dan bertanya mau duduk di Sushi Bar atau di Meja... sedikit unik, karena biasanya yang menyambut seharusnya adalah pelayan, bukan satpam... kami memilih Sushi Bar supaya bisa melihat Chefnya menyiapkan makanan...

Chef kepalanya sepertinya adalah orang Hongkong, kami sempat mendengar dia berbicara dengan bahasa kong hu kepada seseorang yang kami curigai pemilik resto tentang jalan-jalan ke Bali... hehehe... *duh kenapa gw jadi senyum-senyum sendiri...?


Piring-piring di Sushi Bar


Para chef yang menyiapkan makanan

Di meja sudah tersedia sumpit, piring kecil untuk makan sushi, dan sebuah kertas alas meja tentang Sushi, di alas mejanya itu mereka mencoba menjelaskan bagaimana menikmati sushi dengan cara yang benar...



Penjelasan :
1. Pegang seperti di gambar, kamu boleh menggunakan tangan yang bersih, atau gunakan sumpit.
2. Masukan ke dalam kecap, tapi jangan sampai kena nasinya.
3. Masukan ke dalam mulut dengan seafoodnya dibawah.

Kupikir baik juga dia menuliskan cara memakan sushi yang benar, karena kebanyakan orang Jakarta memakan sushi dengan cara yang salah, sehingga membuat sushi terasa "sedikit" enak, sebenarnya dengan cara memakan sushi yang benar, maka rasa sushi benar-benar bisa membuat kita melayang... cara memakan sushi dengan nasi di sisi atas membuat lidah kita langsung merasakan tekstur dan rasa dari seafood segar... sebaliknya jika lidah kamu bertemu dengan nasi terlebih dahulu, maka rasa khas dari masing-masing sushi menjadi tidak terlalu berasa... bagi kamu yang merasa cara makan sushi masih salah tapi tetap ketagihan, cobalah cara makan ini, bisa membuat kamu terbang ke surga lapisan ke enam (kok ke enam ?? baca lanjutannya, hehehe)



Penjelasan diatas ini pun benar adanya, ketika makan di restoran sushi yang dikelola oleh orang Jepang asli, di bawah setiap seafoodnya sudah diselipkan wasabi sedikit... awalnya saya bukan orang yang suka wasabi, tapi wasabi yang ditaruh di bawah seafood malah membuat rasa sushi menjadi sangat enak..! wasabi ini lah yang bisa membuat kamu terbang satu tingkat lebih tinggi ke surga lapisan ke tujuhnya, hahaha...

Kalau penasaran kamu bisa mencobanya di Restoran Jepang di Bali, jadi tidak perlu jauh-jauh ke Jepang, karena di Bali, mereka biasa melayani lidah-lidah turis Jepang... kalau ke Bali, saya pasti menyempatkan diri mencari restoran Jepang, karena Sushi disono benar-benar berbeda dengan di Jakarta... Tapi saya sarankan carilah dan pilihlah benar-benar restoran yang memang dikelola orang Jepang, karena di Bali juga ada Hoka-hoka Bento... hehehe...


Kertas untuk memesan sushi, sashimi, dll.. atau bisa juga menghubungi pelayan terdekat..

Oke, kembali ke Mame, dari semua penjelasan yang diberikan oleh Mame itu membuatku penasaran atas Sushi yang bisa dihidangkan chef di Mame, standarku adalah sushi seperti yang pernah kumakan di Bali... maka saya memesan sushi Salmon, karena sushi itu yang paling umum dan kusuka..


List warna yang menunjukan harga masing-masing piring (dari kiri ke kanan - 15 18 23 28 33 38 48 15 18)

1. Salmon Sushi (Rp. 15.000,-)


Maaf aslinya gak sempet di foto uda keburu abis dan tidak sudi memesan lagi...

Seperti yang kuceritakan sebelumnya, standarku adalah sushi yang seperti di Bali, seperti yang biasa dihidangkan untuk lidah orang Jepang, tapi salmon sushi yang dihidangkan chef Mame adalah salmon sushi yang biasa dihidangkan untuk lidah Indonesia... dengan standar sushi asli, sushi ini tidak ada apa-apanya, tapi kalau kita bandingkan sushi yang ada di Sushi Tei (Kalau tanya orang dimana sushi yang enak, maka Sushi Tei pasti disebut) Sushi ala Mame ini tetap ada dibawah Sushi Tei... Kekurangannya dibanding Sushi Tei adalah nasinya, rasa nasi dari sushi milik Mame terlalu kuat sehingga mengalahkan rasa salmonnya itu sendiri...

2. Ga tau apaan (Rp. 23.000,-)


Dari bawah ke atas : Piring biru muda, piring coklat, Nasi dengan telur ikan disekelilingnya, potongan rumput laut, Telur omelet di potong tipis seperti di nasi uduk, salmon mentah cincang, telur ikan berwarna hijau, telur ikan lagi 4 butir...

Soal rasa, sulit didefinisikan, salmon mentah yang dicincang menjadi sedikit asam, menjadi seakan tidak segar... kamu mungkin bisa menyukainya, mungkin juga tidak... ini makanan yang paling bikin bingung mulai dari nama, bentuk, sampai rasanya... kalau mau coba, coba aja deh... hehehe...

3. Tamago & Inari Sushi (Rp. 15.000,-)


Setelah dipikir-pikir, sushi ini harganya sama dengan sushi salmon... meskipun begitu, sushi ini masih lebih baik dari sushi salmon dalam hal nasinya, karena rasa nasi tidak terlalu menutupi rasa tamago dan inarinya...

4. Pork Katsu Curry Rice (Rp. 32.000,-)
Pada menu


Aslinya



Nasinya mereka menggunakan nasi yang sama seperti yang digunakan untuk sushi, itu poin plusnya... daging babinya agak keras, dan digoreng agak basah... lalu rasa karinya ? entah mengapa aku teringat pada "Indomie rasa Kari Ayam" pada suapan pertama... Nasi kari yang dihidangkan oleh Noodle Cafe masih lebih baik dari Mame... Lalu miso soup yang dihidangkan bersama nasi kari ini sedikit hambar rasanya...

5. Japanese Seafood Pasta (Rp. 40.000,-)
Pada menu


Aslinya



Pelayan sempat memberitahu kami ketika memesan menu ini :
"Tapi gambar yang ada di menu itu cuman buat referensi doang loh pak, untuk terlihat menarik aja, jadi pasti yang digambar lebih bagus, tapi isinya sama kok"
"haha.. Oke deh..."

Kenyataannya memang terlihat sih perbedaan pada menu dan aslinya... tapi pada menu terdapat 5 pcs udang, tapi aslinya cuman 3 pcs... padahal udangnya enak, garing dan manis... Cumi-cuminya pun sedikit garing, dan "kerang ala jepang"nya tidak terasa amis, namun malah jadi sedikit hambar...

Kemudian rasa pasta ini pada dasarnya sama seperti pasta di Pizza Hut atau pun Pasta de Waraku, hanya saja rasanya tidak semedok mereka, ini yang membuat pasta disini terasa lebih enak dan tidak eneg...

6. Ocha (hot and Cold @Rp. 10.000,-) - Free refill


Ochanya boleh minta diisi ulang gratis, Ocha panas diisi ulang dengan Ocha panas yang baru juga... meskipun begitu rasa ochanya benar-benar terasa terutama pada ocha panas, pahit... hehehe...

Bonus foto :
Robatayaki juga disediakan disini, cuman ga saya pesan, hehe..


Tampilan depan buku menu khusus sushi


Keterangan yang dimaksud si pelayan



Total + Tax = Rp. 159.500,-



Nilai :
  • Kebersihan : 9/10 - Mungkin karena restoran baru kali yach ?
  • Pelayanan : 7/10 - Pelayan masih belum menguasai menunya dan masih bertanya pada chef, alat makan juga tidak dikuasai, orang minta sendok soup dibawakannya sendok eskrim...
  • Rasa Makanan : 6/10 - Saya lebih suka bilang "Biasa aja" tapi nasi kari merusak segalanya
  • Harga Makanan : 7/10 - Agak mahal untuk beberapa jenis sushinya, tapi juga murah untuk jenis sushi lainnya... standard lah...
  • Suasana Restoran : 8/10 - Cukup menyenangkan

Monday, February 9, 2009

Kafe Betawi

Alkisah si Kabayan dari kampung sedang kelaparan di sebuah Mall di Jakarta, dan dia pun bermaksud mencari makanan yang agak murah di Mall itu.. Sambil terus berjalan, Kabayan melihat banyak tempat makan bergaya Eropa dan Jepang yang secara harga kelihatannya jauh dari bumi dia.. sampai akhirnya dia melihat Kafe Betawi..! Restoran yang suasananya benar-benar mengingatkan Kabayan pada kampungnya, Kabayan pun lantas berasumsi makanan di restoran itu murah karena restoran itu menyajikan makanan sehari-harinya dikampung.. Kabayan pun dengan Pedenya melangkah masuk ke Kafe Betawi... Selanjutnya ? Terserah imaginasi terliar anda, hahaha..

Saya cukup sering makan di Kafe Betawi kalau tidak tau mau makan apa di Pluit Junction. Pertama, selain harga yang termasuk agak murah di Pluit Junction, rasanya juga lumayan enak.

Menu hari itu
1. Soto Betawi + Nasi Putih (Rp. 25.000,- + Rp. 4.000,-)
Pada Menu


Aslinya



Isinya ada Paru, Babat, Kikil, dan Daging.. kamu bisa minta bawang goreng tambahan kalau suka.. Rasanya bagi saya sebenarnya agak kurang gurih, tapi biasanya teratasi dengan menambahkan garam atau kecap manis, tergantung mood saat itu sedang mau manis atau asin.. Dagingnya lembut, kikil dan babatnya juga lembut..

2. Nasi Rawon (Rp 25.000,-)
Pada menu


Aslinya



Ini bukan kopi..!

Cangkir dengan isi yang berwarna hitam itu bukan Kopi.. melainkan kuah rawonnya, rasanya cukup gurih, dengan daging yang sedikit kasar.. Toge fresh yang ditata di Nasi membuat sensasi garing di mulut.. Pada gambar juga ada sepiring bawang goreng, itu adalah bawang goreng ekstra yang kami minta, free.. Lalu daun dibawah nasi itu rasanya agak pahit, tapi memang daun itu bukan untuk dimakan.. hihihi..

3. Es Teh Tawar (Rp. 4.000,-)



Es teh tawar bersama dengan bumbu yang biasa dipakai untuk minum teh.. :P

Kami hanya memesan 1 es teh tawar, bukan karena gelasnya yang besar, tapi karena kebetulan bawa air mineral sendiri.. Kafe Betawi tidak keberatan dengan air yang kami bawa sendiri itu.. Acarnya cukup enak, rasanya asam-asam segar gitu, apabila tidak tersedia di meja, minta saja sama pelayannya, gratis kok..


Total + Pajak = Rp. 63.800,-


Overall, makan di Kafe Betawi bukan untuk kamu-kamu yang mencari harga murah karena makanan yang disajikannya, tapi untuk kamu yang lagi kangen makan soto atau masakan khas jawa lainnya di Mall seperti si Kabayan pada cerita diatas.. :P






Nilai :
  • Kebersihan : 9/10 - Biasanya saya makan ketika suasana kafe masih sepi..
  • Pelayanan : 8/10 - Pelayan cukup tanggap, meskipun kadang-kadang lelet juga waktu mau bayar
  • Rasa Makanan : 7/10
  • Harga : 6/10 - Termasuk mahal untuk makanan serupa diluar Mall
  • Suasana Restoran : 8/10 - Belum pernah makan disono waktu lagi rame-ramenya