Monday, March 16, 2009

Bakmi GM

Restoran ini terletak di tempat yang terpisah dari kumpulan restoran-restoran di Mall Taman Anggrek, seperti halnya Samudra dan Huang Ting.. Tapi restoran ini memang telah memiliki pelanggannya sendiri, karena meskipun tempatnya agak terpencil dengan ruang restorannya yang besar, kami tetap masuk waiting list saat itu..

Saya datang berdua bersama yayang, sehingga kami termasuk cepat mendapatkan kursi saat itu.. kebanyakan dari mereka yang menunggu berjumlah lebih dari 5 orang per groupnya sehingga mereka harus menunggu lebih lama..

Kami langsung disodorkan sebuah kertas berisi menu untuk kami tulis dengan pesanan kami.. begitu pesanan selesai kami tulis, pelayan langsung menghitung harganya dan meminta kami untuk membayar saat itu juga atau makanan tidak akan dibuatkan.. hehe.. berikut makanan yang kami pesan :

1. Bakmi GM (@Rp. 14.090,-)

Maaf agak burem (gak nyadar pas ngambil)


Kami memesan ini karena dari nama restorannya pun "Bakmi GM", pastinya dia akan mempertaruhkan segalanya ke menu yang mewakili namanya...

Mienya gepeng dan sedikit renyah.. Jamur cah ayam yang ditambahkan diatas mie ini pun rasanya manis-asin cukup enak, serta sayur rebus itu rasanya seperti sayur-sayur rebus lainnya..

Lalu, yang istimewa dari bakmi ini ? hmm... apa yach ?


2. Pangsit Goreng (@Rp. 17.272,-)


Pangsit goreng dan saos manis yang saling melengkapi...

Sebenarnya dibanding menu Bakmi GM di nomor 1, pangsit inilah yang terkenal di Bakmi GM, lihat saja harganya bahkan lebih mahal dari bakminya itu sendiri.. Tapi sepertinya pelanggannya sudah mengenal restorannya dengan nama "Bakmi GM", kalau tidak, pasti nama restorannya sudah diganti jadi "Pangsit GM", hehehe...

Isi dari pangsit ini sebenarnya hanyalah sepotong kecil ayam, tapi kulitnya begitu rapuh sekaligus renyah.. tapi jangan lantas pesan banyak-banyak, segala yang berlebihan tidak baik.. karena kalau makan banyak-banyak, lama kelamaan eneg juga makannya..

Oh iya, lagi ada promo, setiap pembelian 1 porsi pangsit goreng, Bakmi GM akan memberikan donasi Rp 1.000,- melalui UNICEF

3. Es Teh (@ Rp. 3.182,-)


Es tehnya kecil.. kalau saya sih tambah 1 gelas lagi..


Total + Tax : Rp. 60.497,80

orang bijak pesan pangsit goreng saat makan di Bakmi GM, hehehe...



Nilai :
  • Kebersihan : 8/10 - Cukup bersih untuk ukuran restoran yang ramai
  • Pelayanan : 6/10 - Pelayannya kewalahan
  • Rasa makanan : 9/10 - A tribute to pangsit goreng
  • Harga : 7/10
  • Suasana restoran : 6/10 - Family restoran yang lain masih lebih baik dalam hal suasana

Sunday, March 8, 2009

Old Chang Kee



Snack yang katanya sudah jualan sejak 1956 ini baru buka di Mall Emporium Pluit, dulu biasanya saya harus ke Plaza EX untuk membeli Old Chang Kee (ada yang tau arti Old Chang Kee ?)

Old Chang Kee ini berasal dari Singapura, outlet pertamanya ada di depan Rex Cinema di Singapura sono... dan pernah memenangkan SPBA Distinctive Brand Awards 2005 dan Singapore Brand Award Heritage Award 2005...

Saya hanya membeli 2 macam aja untuk diicip-icip, hehe...

Tampak luar :


Tampak 1/2 dalam :


Yang samar-samar di sebelah kiri adalah Squid Wings (Rp. 8.800,-)
Atau juga disebut badan cumi-cumi (di Singapura wings itu artinya badan yach ?) rasanya ? alot... dikunyah dari depan kedai sampai parkiran masih belum ketelen juga...

Lalu yang samar-samar di sebelah kanan Seafood Gyoza (Rp. 6.500,-)
Rasanya garing diluar, lembek-lembek didalam... isinya adonan tepung, seafoodnya gak berasa, lebih terasa MSG nya...

Gambar makanannya yang ga samar-samar lupa difoto, hehe... mohon mangap...

Gambar kiosnya :

Bu..! bu..! antri donk... :(


Nah gitu donk... :P


Total : Rp. 15.300,-

Mau beli lagi ? mungkin iya, tapi coba yang lainnya... hehehe... (lagi gak gampang kapok)



Nilai :
  • Kebersihan : 6/10 - Gak yakin bersih sih
  • Pelayanan : 7/10 - Biasa aja
  • Rasa makanan : 3/10 - Gak banget
  • Harga : 4/10 - Mahal ah
  • Suasana restoran : 6/10

Saturday, March 7, 2009

Yong Tau Fu



Hari itu saya sedang tidak ingin makan terlalu banyak daging, terkadang memang mood seperti itu bisa datang tanpa sebab.. biasanya aku mencari sushi restoran, atau makan salad Sizzler.. tapi hari ini aku memilih makan Yong Tau Fu karena belakangan ini Yong Tau Fu sudah mulai bisa dilihat di mall-mall lain..

Kuakui sudah lama saya tidak mampir di Yong Tau Fu, dulu makanan ini sempat mendapatkan tempat spesial di hati, hehe.. tapi saya sudah lupa sejak kapan tidak kembali ke Yong Tau Fu.. setelah mengantri, dan memilih sayur dan baso yang ingin kumakan, aku lalu membayar dan menunggu makanannya diantar..

Perlu kukatakan disini, coba tanyakan pada kasir sayur yang anda ambil itu dihitung per pcs atau 2 pcs.. karena ternyata Sawi Putih dihitung per 2 pcs dan tidak ditulis pada harganya..

Berikut list yang saya pesan :
2 Baso Tahu Sayur - Rp. 6.000,-
1 Otak-Otak - Rp. 2.000,-
1 Lumpia Sayur - Rp. 2.300,-
1 Poling - Rp. 3.500,-
1 Fancy Crab - Rp. 3.800,-
1 Siomay Udang - Rp. 3.800,-
1 Enoki - Rp. 5.500,-
1 Rumput Laut - Rp. 1.500,-
1 Sawi Putih - Rp. 2.500,-
2 Ice Tea - Rp. 9000,-

Total : Rp. 39.900,-
Total + Tax : Rp. 43.890,- (untuk 2 orang)
Cash : Rp. 50.000,-
Kembalian : Rp. 6.000,- (dikorupsi Rp. 110,-) ...

Dengan memesan minimal 5 item, kamu bisa mendapatkan free rice / noodle / bee hon (maksudnya "Bihun", hehe), saya memesan mie saja..

Lalu kamu juga akan ditanyakan mau kuahnya kuah Tom Yam atau Kaldu Ayam.. saya memesan kaldu, sedangkan yayang memesan Tom Yam.. setelah itu kami duduk dengan membawa nomor mangkok :


Dari tempat duduk, kamu bisa melihat dapur :


Sayuran dan baso yang perlu dipotong akan dipotong oleh orang berbaju putih pada gambar, dan direbus sebentar seperti merebus mie ayam, lalu disiram kuah sesuai pesanan.

Sambil menunggu pesanan kita dipotong-potong, pelayan mengantarkan es teh :


Setelah teh, datang cemilan untuk dimakan sembari menunggu masakannya (hihihi) :


Tidak lama datanglah makanan yang ditunggu-tunggu :

Kuah kaldu



Katanya sih kuah kaldu, tapi begitu mencicipi sedikit makanan ini saya teringat mengapa saya tidak kembali lagi ke Yong Tau Fu.. Rasanya kaya akan minyak wijen, lebih cocok disebut sebagai kuah wijen.. mie nya pun tidak ada istimewanya, hanya mie kuning yang besar-besar gitu..

Kuah Tom Yam



Kuah Tom Yamnya pedas dan asam, masih bisa dikategorikan sebagai kuah Tom Yam..


Membuat masakan ini tidak sulit, tinggal dicemplungin saja semuanya.. tapi seingat saya ada beberapa jenis itemnya yang seharusnya digoreng.. contohnya :


Lumpia yang sudah digoreng ikut dicelup ......


Otak-otak rebus ?


Selain itu, bukti kesegaran sayur pun ikut direbus :




Ketika protes tentang ulat yang tidak kami pesan itu, pelayan menawarkan makanannya diganti yang baru, kami pun setuju, namun yang datang ke kami :



Apabila kami akan makan Yong Tau Fu, mungkin kami akan mencoba gerai-gerai barunya, yang pasti bukan di Mall Ciputra lagi..





Nilai :
  • Kebersihan : 5/10
  • Pelayanan : 4/10 - Mereka cenderung cuek dan membiarkan pelanggannya dalam ketidaktahuan.. contoh : kasus sawi putih.
  • Rasa makanan : 6/10 - Setidaknya sayurannya segar dan kuah Tom Yam nya lumayan.
  • Harga : 8/10 - Cukup murah untuk sesuatu yang mengenyangkan
  • Suasana restoran : 7/10 - Selayaknya restoran yang sekelas dengannya

Sunday, March 1, 2009

MAME



Mame adalah restoran yang cukup besar di Pluit Junction, namun tidak seperti restoran besar lainnya di Pluit Junction, ataupun seperti restoran Jepang lainnya di Jakarta, Mame ini terlihat sepi...

Begitu menjejakkan kaki di Mame Restaurant, kami dihampiri seorang satpam, awalnya kami pikir ada semacam security check sebelum makan di Mame, tapi ternyata satpam itu menyapa kami dan bertanya mau duduk di Sushi Bar atau di Meja... sedikit unik, karena biasanya yang menyambut seharusnya adalah pelayan, bukan satpam... kami memilih Sushi Bar supaya bisa melihat Chefnya menyiapkan makanan...

Chef kepalanya sepertinya adalah orang Hongkong, kami sempat mendengar dia berbicara dengan bahasa kong hu kepada seseorang yang kami curigai pemilik resto tentang jalan-jalan ke Bali... hehehe... *duh kenapa gw jadi senyum-senyum sendiri...?


Piring-piring di Sushi Bar


Para chef yang menyiapkan makanan

Di meja sudah tersedia sumpit, piring kecil untuk makan sushi, dan sebuah kertas alas meja tentang Sushi, di alas mejanya itu mereka mencoba menjelaskan bagaimana menikmati sushi dengan cara yang benar...



Penjelasan :
1. Pegang seperti di gambar, kamu boleh menggunakan tangan yang bersih, atau gunakan sumpit.
2. Masukan ke dalam kecap, tapi jangan sampai kena nasinya.
3. Masukan ke dalam mulut dengan seafoodnya dibawah.

Kupikir baik juga dia menuliskan cara memakan sushi yang benar, karena kebanyakan orang Jakarta memakan sushi dengan cara yang salah, sehingga membuat sushi terasa "sedikit" enak, sebenarnya dengan cara memakan sushi yang benar, maka rasa sushi benar-benar bisa membuat kita melayang... cara memakan sushi dengan nasi di sisi atas membuat lidah kita langsung merasakan tekstur dan rasa dari seafood segar... sebaliknya jika lidah kamu bertemu dengan nasi terlebih dahulu, maka rasa khas dari masing-masing sushi menjadi tidak terlalu berasa... bagi kamu yang merasa cara makan sushi masih salah tapi tetap ketagihan, cobalah cara makan ini, bisa membuat kamu terbang ke surga lapisan ke enam (kok ke enam ?? baca lanjutannya, hehehe)



Penjelasan diatas ini pun benar adanya, ketika makan di restoran sushi yang dikelola oleh orang Jepang asli, di bawah setiap seafoodnya sudah diselipkan wasabi sedikit... awalnya saya bukan orang yang suka wasabi, tapi wasabi yang ditaruh di bawah seafood malah membuat rasa sushi menjadi sangat enak..! wasabi ini lah yang bisa membuat kamu terbang satu tingkat lebih tinggi ke surga lapisan ke tujuhnya, hahaha...

Kalau penasaran kamu bisa mencobanya di Restoran Jepang di Bali, jadi tidak perlu jauh-jauh ke Jepang, karena di Bali, mereka biasa melayani lidah-lidah turis Jepang... kalau ke Bali, saya pasti menyempatkan diri mencari restoran Jepang, karena Sushi disono benar-benar berbeda dengan di Jakarta... Tapi saya sarankan carilah dan pilihlah benar-benar restoran yang memang dikelola orang Jepang, karena di Bali juga ada Hoka-hoka Bento... hehehe...


Kertas untuk memesan sushi, sashimi, dll.. atau bisa juga menghubungi pelayan terdekat..

Oke, kembali ke Mame, dari semua penjelasan yang diberikan oleh Mame itu membuatku penasaran atas Sushi yang bisa dihidangkan chef di Mame, standarku adalah sushi seperti yang pernah kumakan di Bali... maka saya memesan sushi Salmon, karena sushi itu yang paling umum dan kusuka..


List warna yang menunjukan harga masing-masing piring (dari kiri ke kanan - 15 18 23 28 33 38 48 15 18)

1. Salmon Sushi (Rp. 15.000,-)


Maaf aslinya gak sempet di foto uda keburu abis dan tidak sudi memesan lagi...

Seperti yang kuceritakan sebelumnya, standarku adalah sushi yang seperti di Bali, seperti yang biasa dihidangkan untuk lidah orang Jepang, tapi salmon sushi yang dihidangkan chef Mame adalah salmon sushi yang biasa dihidangkan untuk lidah Indonesia... dengan standar sushi asli, sushi ini tidak ada apa-apanya, tapi kalau kita bandingkan sushi yang ada di Sushi Tei (Kalau tanya orang dimana sushi yang enak, maka Sushi Tei pasti disebut) Sushi ala Mame ini tetap ada dibawah Sushi Tei... Kekurangannya dibanding Sushi Tei adalah nasinya, rasa nasi dari sushi milik Mame terlalu kuat sehingga mengalahkan rasa salmonnya itu sendiri...

2. Ga tau apaan (Rp. 23.000,-)


Dari bawah ke atas : Piring biru muda, piring coklat, Nasi dengan telur ikan disekelilingnya, potongan rumput laut, Telur omelet di potong tipis seperti di nasi uduk, salmon mentah cincang, telur ikan berwarna hijau, telur ikan lagi 4 butir...

Soal rasa, sulit didefinisikan, salmon mentah yang dicincang menjadi sedikit asam, menjadi seakan tidak segar... kamu mungkin bisa menyukainya, mungkin juga tidak... ini makanan yang paling bikin bingung mulai dari nama, bentuk, sampai rasanya... kalau mau coba, coba aja deh... hehehe...

3. Tamago & Inari Sushi (Rp. 15.000,-)


Setelah dipikir-pikir, sushi ini harganya sama dengan sushi salmon... meskipun begitu, sushi ini masih lebih baik dari sushi salmon dalam hal nasinya, karena rasa nasi tidak terlalu menutupi rasa tamago dan inarinya...

4. Pork Katsu Curry Rice (Rp. 32.000,-)
Pada menu


Aslinya



Nasinya mereka menggunakan nasi yang sama seperti yang digunakan untuk sushi, itu poin plusnya... daging babinya agak keras, dan digoreng agak basah... lalu rasa karinya ? entah mengapa aku teringat pada "Indomie rasa Kari Ayam" pada suapan pertama... Nasi kari yang dihidangkan oleh Noodle Cafe masih lebih baik dari Mame... Lalu miso soup yang dihidangkan bersama nasi kari ini sedikit hambar rasanya...

5. Japanese Seafood Pasta (Rp. 40.000,-)
Pada menu


Aslinya



Pelayan sempat memberitahu kami ketika memesan menu ini :
"Tapi gambar yang ada di menu itu cuman buat referensi doang loh pak, untuk terlihat menarik aja, jadi pasti yang digambar lebih bagus, tapi isinya sama kok"
"haha.. Oke deh..."

Kenyataannya memang terlihat sih perbedaan pada menu dan aslinya... tapi pada menu terdapat 5 pcs udang, tapi aslinya cuman 3 pcs... padahal udangnya enak, garing dan manis... Cumi-cuminya pun sedikit garing, dan "kerang ala jepang"nya tidak terasa amis, namun malah jadi sedikit hambar...

Kemudian rasa pasta ini pada dasarnya sama seperti pasta di Pizza Hut atau pun Pasta de Waraku, hanya saja rasanya tidak semedok mereka, ini yang membuat pasta disini terasa lebih enak dan tidak eneg...

6. Ocha (hot and Cold @Rp. 10.000,-) - Free refill


Ochanya boleh minta diisi ulang gratis, Ocha panas diisi ulang dengan Ocha panas yang baru juga... meskipun begitu rasa ochanya benar-benar terasa terutama pada ocha panas, pahit... hehehe...

Bonus foto :
Robatayaki juga disediakan disini, cuman ga saya pesan, hehe..


Tampilan depan buku menu khusus sushi


Keterangan yang dimaksud si pelayan



Total + Tax = Rp. 159.500,-



Nilai :
  • Kebersihan : 9/10 - Mungkin karena restoran baru kali yach ?
  • Pelayanan : 7/10 - Pelayan masih belum menguasai menunya dan masih bertanya pada chef, alat makan juga tidak dikuasai, orang minta sendok soup dibawakannya sendok eskrim...
  • Rasa Makanan : 6/10 - Saya lebih suka bilang "Biasa aja" tapi nasi kari merusak segalanya
  • Harga Makanan : 7/10 - Agak mahal untuk beberapa jenis sushinya, tapi juga murah untuk jenis sushi lainnya... standard lah...
  • Suasana Restoran : 8/10 - Cukup menyenangkan

Monday, February 16, 2009

about Mall icip-icip

Salam untukmu sobatku...

Project Mall icip-icip ini cukup menyita porsi waktuku yang aslinya memang sudah sedikit... Terus-terang, beberapa ide, komentar, antusiasme, dan masukan dari teman-teman sangat membuatku bahagia... Perasaan yang sulit didefinisikan dengan kata-kata... Terima kasih atas semua itu Kawan...

Ide Mall icip-icip ini berawal dari rasa penasaran akan review-review di berbagai televisi, majalah, atau web sekalian, yang seakan selalu bermulut manis pada semua reviewnya... yang gak enak dibilang "enak", yang memang beneran enak dibilang "maknyuss"... Penasaran itu akhirnya membawaku pada sebuah pertanyaan, apa resikonya kalau kita bilang "gak enak" pada makanan yang memang tidak enak, dan bilang "Pelayannya ngaco" pada pelayanan restoran yang memang gak bener...? Pertanyaan yang sebenarnya menyadarkanku akan pikiran naifku saat itu (yang memang kadang-kadang muncul), tentu saja bukan masalah resiko, it's all about the money...!

Tentunya restoran akan menyajikan masakan yang "wah" dengan pelayanan super apabila akan masuk TV atau majalah, ditambah lagi mungkin ada sedikit "cindera mata" untuk si reviewer... Sehingga ketika kita datang ke resto yang sama, kata-kata seperti "kok gini yach ?" akan muncul... Berbeda dengan film Ratatouille (2007) yang menceritakan tentang pekerjaan seorang kritikus makanan, mereka benar-benar jujur akan reviewnya, bahkan yang bagus sekalipun dibilang jelek kalau ternyata ada satu hal yang kurang sempurna...

Berawal dari itu semua, saya lantas mencoba memulai Mall icip-icip dengan segala kejujuran, dengan datang disaat tak terduga sehingga kejadian-kejadian yang saya alami dan ceritakan di Mall icip-icip mungkin saja terjadi pada anda... datang disaat ramai, sampai tidak memakai bumbu tambahan atau saos apapun ketika menyantap masakan yang disajikan chef ke saya... dengan Mall icip-icip, saya mencoba menghadirkan pengalaman membaca review yang berbeda... anda akan melihat foto lalat pada soup apabila memang hal itu kejadian saat review...

Menulis review makanan sebenarnya susah-susah gampang, karena selera kita berbeda-beda, lain halnya dengan orang Eropa yang lebih mementingkan penampilan makanannya dibandingkan rasanya, pernah ketika saya bertanya pada seorang German tentang makanannya, dia menjawab, "Nice, the food was beautiful", bagi mereka tata-cara makan lebih penting daripada rasanya itu sendiri... sehingga saya pikir orang Eropa sepertinya lebih mudah menulis review... dikarenakan selera yang berbeda-beda itu, tidak jarang saya bertanya pada orang lain sebelum saya menulis atau menyimpulkan...

Kawan, minggu ini tidak ada review makanan karena saya sedang mempersiapkan pre-wedding di Pulau yang sangat indah, Pulau Dewata.. Sehingga saya mohon ijin dulu, pamit untuk minggu ini dan minggu depan, saya akan menulis lagi di awal bulan Maret 2009...

Saya tutup dengan sebuah Quote dari kritikus terkenal (coba tebak siapa dia, hihihi) :
In many ways, the work of a critic is easy. We risk very little yet enjoy a position over those who offer up their work and their selves to our judgment. We thrive on negative criticism, which is fun to write and to read. But the bitter truth we critics must face, is that in the grand scheme of things, the average piece of junk is more meaningful than our criticism designating it so. But there are times when a critic truly risks something, and that is in the discovery and defense of the new. The world is often unkind to new talent, new creations, the new needs friends. Last night, I experienced something new, an extraordinary meal from a singularly unexpected source. To say that both the meal and its maker have challenged my preconceptions about fine cooking is a gross understatement. They have rocked me to my core. In the past, I have made no secret of my disdain for Chef Gusteau's famous motto: Anyone can cook. But I realize, only now do I truly understand what he meant. Not everyone can become a great artist, but a great artist can come from anywhere. It is difficult to imagine more humble origins than those of the genius now cooking at Gusteau's, who is, in this critic's opinion, nothing less than the finest chef in France. I will be returning to Gusteau's soon, hungry for more.

Ps: Beberapa orang bertanya, kok bisa kepikiran nama "Mall icip-icip" ? Jawabannya sederhana : "gue juga ga tau"